Harmonisasi Sosial Masyarakat Perbatasan Indonesia-Malaysia

Sri Suwartiningsih, David Samiyono, Daru Purnomo

Abstract


Indonesia is a country that symbolizes plurality. The horizontal conflicts caused by ethnicity, race, and religion show that there is a crisis of national integration and social disharmony within the country. Conflicts in several regions in Indonesia provoked by several things, namely, lack of empathy, tolerance, and trust. However, this is different from what was shown in the border communities in Kalimantan. The result of the research which was conducted in April to June 2015 showed that the people in Indonesia-Malaysia border (especially in districts Jagoi Babang) were able to respect one another in the context of national integration. Living side by side despite their different citizenship is the evidence that they have mutual interaction in many fields such as the economy, education, and health. This condition creates social harmony among those communities. The main reason is that they feel as one family (kinship) under Dayak Bidayuh descent. This sense of belonging is as the result of local wisdom which is still being conducted among them, called ritual Gawai.


Indonesia merupakan salah satu simbol negara pluralitas. Konflik horizontal akibat suku, ras dan agama yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia memperlihatkan adanya krisis integrasi nasional dan disharmoni sosial. Konflik-konflik tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti rendahnya pemahaman tentang makna pluralitas, kurangnya toleransi, adanya pembanggaan terhadap agama, suku dan ras tertentu, serta berkurangnya nilai-nilai kepercayaan. Namun, berbeda dengan masyarakat perbatasan di Kalimantan.  Hasil penelitian yang dilakukan pada bulan April sampai dengan Juni 2015, menunjukkan kehidupan masyarakat di perbatasan Indonesia-Malaysia (khususnya di Kecamatan Jagoi Babang), mampu memperlihatkan sikap solidaritas, menghargai satu dengan yang lain dalam konteks integrasi nasional. Interaksi antarwarga beda negara yang mampu hidup berdampingan adalah bukti bahwa mereka saling membutuhkan. Kebutuhan ini meliputi bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan yang membuat masyarakat perbatasan Indonesia–Malaysia melangsungkan kehidupan secara harmonis. Alasan utamanya adalah rasa kesertaan sebagai satu keluarga (hubungan kekerabatan) yaitu sebagai keturunan Dayak Bidayuh dan adanya kearifan lokal yang masih dijalankan sampai sekarang yaitu ritual adat Gawai.


Keywords


solidarity; social interaction; national integration; plurality; social harmony; kinship; Interaksi sosial; integrasi nasional; pluralitas; harmonisasi sosial; kekerabatan

Full Text:

PDF

References


Berger, P.L., 2005. Piramida Kurban Manusia, Etika Politik dan Perubahan Sosial, Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta.

Engel, J.D., 2005. Metode Penelitian Sosial dan Teologi Kristen, Widya Sari Press, Salatiga.

Darmaputera, E., 2005. Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Fromm, E., 2010. Akar Kekerasan, Analisis Sosio-psikologis atas Watak Manusia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Garang, P.J., 2007. Nias: Membangun Harapan Menapak Masa Depan, Yayasan Tanggul Bencana Indonesia, Jakarta.

Giddens, A., 2009. Problematika Utama dalam Teori Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Hämmerle, J.M., 2001. Asal Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, Gunung Sitoli.

Idhamputra, 2008. Teori Identitas Sosial, diunduh dari dan .

Koentjaraningrat, 1997. Metode-metode Penelitian Masyarakat, Edisi Ketiga, Gramedia, Jakarta.

La Aru Hutagaol, Papin, 2012. Interaksi Etnis Cina-Melayu dalam Mengelola Proses Harmonisasi Sosial (di RT Kampung Jawa, Kelurahan Koba, Kabupaten Bangka Tengah-Koba) Program Studi Sosiologi FISKOM-UKSW diunduh 12-11-2013.

Lukum, Roni. 2011. Membina Harmonisasi Kehidupan Antar Etnis di Propinsi Gorontalo, Fakulas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo. diunduh 12-11-2013.

Maleong, L.J., 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Plaisier, A.J., 2002. Manusia, Gambar Allah, Terobosan-terobosan dalam Bidang Antropologi Kristen, PT BPK Gunung Mulia, Bandung.

Pramudianto (ed.). 2005, Nias Rescuing and Empowering Authority, Sirao Credentia Center, Tangerang.

Santoso, Gempur, 2007. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif , Prestasi Pustaka, Jakarta.

Soekanto, Soerjono, 2010. Sosiologi: Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Soekanto, Soerjono, 2010. Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Soyomukti, Nurani, 2010. Pengantar Sosiologi, AR-RUZZ MEDIA, Yogyakarta.

Sudarsa, A.G., 2013. Membangun Indonesia Sejahtera (Langkah Nyata Menuju Visi Indonesia 2020), PT. Semesta Rakyat Merdeka, Jakarta.

Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Suwartiningsih, S. & Zega, F., 2012. Kearifan Lokal Masyarakat Kota Gunungsitoli, Kotamadya Nias, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. MSA, F.Theologia, UKSW, Salatiga.

Suzuki, Peter, 1959. The Religious System and Culture of Nias Indonesia, Disertasi s’Gravenhage.

Sztompka, Piötr, 2010. Sosiologi Perubahan Sosial, Prenada, Jakarta.

Usman, H. & Purnomo, S.A., 2009. Metodologi Penelitian Sosial , Bumi Aksara, Jakarta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Jurnal Hubungan Internasional

Creative Commons License
Jurnal Hubungan Internasional by Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
Based on a work at http://journal.umy.ac.id/index.php/jhi.

Print ISSN: 1829-5088 / Online ISSN: 2503-3883